Suku Batak : Sejarah, Adat Istiadat dan Budaya Suku Batak

Suku suling batak musik korem sihombing

Indonesia sangat terkenal dengan keberagaman suku dan budayanya, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Salah satu suku yang cukup menarik untuk dibahas adalah suku Batak. Suku Batak bisa kita temukan di seluruh wilayah Indonesia karena suku Batak terkenal suka merantau dan sangat mampu beradaptasi di semua tempat. Untuk lebih memahami tentang suku Batak, mari kita baca penjelasan di bawah ini.

Suku Batak

Suku Jawa dan Suku Batak adalah dua suku yang bisa kita temukan hampir di seluruh daerah yang ada di Indonesia. Berdeda dengan suku-suku lainnya, suku Batak yang ada diperantauan sangat tertarik apabila bertemu dengan suku batak lainnya dan akan mulai martarombo.

Martarombo adalah sebuah kegiatan dimana kedua orang berbincang-bincang untuk mencari hubungan persaudaraan dari marga mereka terhadap marga yang lain. Hal inilah yang dapat menjaga ikatan kekerabatan orang-orang dari suku Batak tetap erat. Masyarakat suku Batak yang masih mengikuti aturan adat sangat mengikuti 3 (tiga) aturan dasar, atau yang biasa disebut dengan Dalihan Na Tolu.

Baca Juga : Alat Musik Tradisional Indonesia

Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Isi dari Dalihan Na Tolu antara lain adalah :

1. Somba Marhulahula

Somba Marhulahula jika diartikan secara harafiah adalah menyembah hulahula (orang yang memiliki marga sama dengan Ibu), akan tetapi sebenarnya tidak demikian.

Kata somba disini diartikan sebagai hormat atau menghormati. Lalu kenapa hulahula harus dihormati? Alasannya cukup jelas, tentunya karena hulahula adalah pemberi keturunan.

Baik itu pihak keluarga istri, keluarga ibu, dan keluarga nenek adalah hulahula yang harus dihormati. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula, tanpa hulahula tidak ada istri dan tanpa istri tidak ada keturunan.

batak musik judika

2. Elek Marboru

Elek Marboru artinya adalah lemah lembut tehadap boru (perempuan). Boru atau perempuan yang dimaksud disini bukan perempuan yang kita sukai, melainkan adalah anak perempuan kita, atau kelompok pihak marga lain yang menjadikan anak perempuan kita sebagai istrinya.

Kenapa orang dari suku Batak harus Elek Marboru? Ada banyak alasan, misalnya sebagai respon terhadap sikap Somba Marhulahula yang ditunjukkan oleh pihak keluarga yang meminang putri kita.

Atau ada juga yang mengatakan karena pihak boru (biasa disebut parboru) memiliki peran yang sangat penting ketika masyarakat suku Batak sedang melakukan acara adat Batak.

3. Manat Mardongan Tubu

Manat Mardongan Tubu artinya adalah suatu sikap berhati-hati atau menjaga agar tetap baik kepada yang satu marga atau satu kelompok marga, agar dapat mencegah kesalahpahaman antar yang satu dengan yang lain.

Ada pepatah batak yang mengatakan “hau na jonok do na boi marsiogoson”, yang artinya kayu yang berdekatanlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa orang-orang yang berdekatan bisa saja bergesekan dan memiliki konflik jika tidak hati-hati.

Perempuan Batak
Jadi jika disimpulkan, inti ajaran Dalihan Na Tolu adalah kaidah moral yang berisi ajaran untuk kita bisa saling menghormati (masipasangapon), saling menghargai dan saling menolong. Dalihan Natolu juga dianggap sebagai media yang memuat asas hukum yang objektif.

Baca Juga : Suku Dayak

Sejarah Suku Batak

Menurut penelitian, dari bahasa dan data arkeologi yang ada, orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu pada jaman Neolitikum (batu muda)

Namun karena hingga saat ini belum ditemukan artefak zaman Neolitikum di wilayah Batak, maka diduga bahwa nenek moyang suku Batak baru bermigrasi ke Sumatra Utara pada zaman logam.

Sejarah Suku Batak

Pada abad ke-6 pedagang-pedagang asal India mendirikan kota dagang bernama Barus, letaknya ada di pesisir barat Sumatra Utara. Pada saat itu komoditas utama yang dapat diekspor dari tanah Batak adalah kapur barus yang memiliki kualitas tinggi dan kemenyan.

Pada abad ke-10, kota Barus diserang oleh Sriwijawa yang akhirnya mengusir para pedagang Tamil asal India dari dari pesisir Sumatra. Hingga pada akhirnya perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai pedagang asal Minang yang berkoloni di pesisir barat dan timur Sumatra Utara.

Perihal asal usul dari suku batak sendiri masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Sebab ada yang mengatakan bahwa nenek moyang Bangsa Batak adalah dari Pulai Formosa (Taiwan), Indochina, Mongolia dan Mizoran.

Selain itu yang paling kontroversial adalah yang mengatakan bahwa Bangsa Batak terindikasi berasal dari sepuluh suku Israel yang hilang.

Baca Juga : Suku Mante

Adat dan Budaya Suku Batak

Salah satu yang menarik dari suku Batak adalah rumah adatnya. Rumah adat suku Batak disebut dengan Jabu bolon, yang artinya rumah besar. Rumah panggung yang bentuknya unik ini membuat orang mudah mengenalinya.

Jabu bolon memiliki pintu yang rendah, tujuannya agar pengunjung yang datang ke rumah memasuki rumah dengan cara menunduk, sebagai bentuk rasa hormatnya kepada tuan rumah.

Rumah Adat Batak Rumah besar

Suku Batak memiliki banyak sub suku, antara lain seperti suku Batak Angkola, Batak Simalungan, Batak Karo, Pakpak, Mandailing dan Batak Toba. Meski tergabung dalam satu suku dengan jumlah yang besar, akan tetapi terdapat budaya yang berbeda.

Nilai budaya yang dimiliki oleh Suku Batak merupakan sebuah falsafah hidup untuk mengontrol sistem sosial, beberapa contoh dantaranya :

1. Kekerabatan

Suku Batak memiliki kekerabatan yang erat dan terjain baik diantara sesama suku maupun antar sub suku. Seperti yang sudah dijelasakan sebelumnya bahwa ada tradisi martarombo yang dipegang oleh masyarakat suku Batak.

Martarombo adalah mencari partuturan atau hubungan kekerabatan dari ikatan marga yang ada di kedua pihak. Biasanya, tradisi martarombo ini dilakukan oleh Suku Batak yang sedang merantau.

2. Marsisarian

Marsisarian dilakukan untuk mengatur dan menjaga keseimbangan hubungan antar umat manusia. Marsisarian bisa diartikan sebagai sikap saling menghargai, mengerti serta saling membantu. Sikap ini membantu hubungan tetap baik dan mencegah konflik di antara sesama.

3. Pengayoman

Pengayoman adalah sebuah hal yang unik sebab dapat membuat masyarakat Batak bisa hidup lebih mandiri tanpa harus mengharap belas kasih dari orang lain. Prinsip ini membuat semua orang harus kuat dan dapat saling mengayomi antara yang satu dengan yang lain.

4. Uhum dan Ugari

Uhum dan Ugari bisa diartikan sebagai hukum, yaitu sebuah aturan yang mutlak untuk dilakukan. Tujuannya adalah agar semua orang bisa merasakan keadilan dalam semua aspek.

Nilai-nilai keadilan ini diwujudkan melalui sebuah komitmen dalam melakukan kebiasaan (Ugari) serta kesetiaan pada janji. Dan ketika komitmen ini dilanggar oleh seorang dari suku Batak, pastinya akan dijatuhi hukum adat dan dianggap sebagai orang tercela.

Hal ini membuat Uhum dan Ugari dipatuhi dan dijunjung tinggi oleh para masyarakat suku Batak. Masyarakat suku Batak yang mampu menjalankan, menghormati Uhum dan Ugari juga dianggap terhormat.

5. Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon

Dalam suku Batak sering disebut kata hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Jika diterjemahkan secara harafiah, hamoraon artinya adalah kekayaan, hagabeon adalah memiliki banyak keturunan, dan hasangapaon artinya terhormat atau mulia.

Suku Batak diharapkan dapat memenuhi ketiga hal tersebut, yaitu menjadi mapan, memiliki banyak keturunan dan terpandang secara sosial. Anak yang dimaksud di sini adalah anak laki-laki yang dianggap akan meneruskan keturunan dan marga orang tuanya.

Seiring berjalannya waktu, tradisi memiliki banyak ini juga berubah. Yang diutamakan bukan lagi kuantitas, melainkan kualitas. Hal inilah yang membuat orang tua masyarakat suku Batak membuat standar yang cukup tinggi bagi pendidikan dan keterampilan anaknya.

Nilai budaya inilah yang juga menjadi sistem sosial untuk menata tatanan sosial yang ada dalam masyarakat suku Batak.

6. Menikahi Sepupu

Salah satu hal yang tidak lazim dimasa sekarang adalah menikah dengan sepupu. Namun tidak bagi suku Batak, menikahi pariban adalah sebuah tradisi yang bahkan disarankan oleh para orang tua kepada anak mereka.

Sepupu yang dimaksud disini bukan asal sepupu, tetapi ada aturan yang mutlak. Bagi seorang laki-laki, dia boleh meminang anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya. Sedangkan bagi anak perempuan dia boleh dipinang oleh anak dari saudari ayahnya.

marpariban pernikahan adat batak

Di luar dari syarat tersebut tidak diperbolehkan, karena saudara sepupu dianggap sama dengan saudara kandung. Walaupun diperbolehkan menikahi sepupu (bersayarat), namun masyarakat Batak tidak diperbolehkan menikah dengan yang satu marga.

Selain dengan marga yang sama, setiap marga yang ada juga biasanya memiliki sebuah perjanjian dengan marga lain, sehingga beberapa marga terikat perjanjian tadi dan marga-marga yang  masih dianggap satu silsilah juga tidak diperbolehkan untuk menikah. Itu sebabnya orang dari suku Batak suka bertanya tentang marga orang Batak lainnya ketika baru berkenalan.

7. Sinamot atau Tuhor

Sinamot bisa diartikan sebagai mas kawin, sedangkan tuhor jika diterjemahkan adalah beli, atau jika diartikan sebagai uang yang akan digunakan untuk ‘membeli’ perempuan ketika akan dilamar oleh seorang laki-laki.

Tuhor akan dipergunakan untuk biaya pernikahan, baik itu kebaya pengantin perempuan, sepatu hingga perhiasan yang dikenakan saat menikah. Jumlahnya akan dibicarakan dahulu dan harus disepakati oleh kedua belah pihak.

Adat Istiadat dan Budaya Suku Batak

Jika ada kesepakatan maka keduanya bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, sedangkan bila belum ada kesepakatan biasanya akan ada pertemuan lainnya untuk membicarakan hal tersebut yang berdampak pada kemunduran waktu acara pernikahan, akan tetapi tidak sedikit juga yang akhirnya memutuskan untuk membatalkan pernikahan.

Besarnya Sinamot ini biasanya akan disesuaikan kepada strata pendidikan atau pekerjaan yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Semakin tinggi tingkat pendidikan atau posisi pekerjaan, maka akan semakin besar pula tuhor yang harus diberikan.

Masih banyak masyarakat Batak yang memegang adat ini, namun tidak sedikit juga yang sudah moderat. Biasanya mereka akan meninggalkan kebiasan tersebut, dan dikatakan memang sudah sama-sama holong (mencintai) sebaiknya jangan dipersulit.

8. Mandok Hata

Mandok Hata adalah bercakap-cakap atau berbincang, dan bukan sekadar perbincangan ringan yang kita lakukan sehari-hari. Mandok Hata biasanya dilakukan pada momen berduka, memberikan nasihat kepada pasangan yang baru menikah dan lain sebagainya.

Namun yang paling berkesan bagi masyarakat batak adalah Mandook Hata yang dilakukan setiap tahun baru. Untuk menyambut tahun baru biasanya setiap orang akan menyiapkan doa dan harapan untuk tahun yang akan datang.

Mandok Hata di awal tahun ini dilakukan bersama dengan keluarga besar, yang akan bercerita satu sama lain dan merefleksikan hal yang telah dilakukan setahun yang lalu. Mereka juga akan saling minta maaf lalu kemudian merencanakan apa yang ingin dicapai tahun depan. Biasanya kepala keluarga akan menjadi pemimpin sekaligus moderator acara tersebut.

9. Hiasan Cicak pada Rumah

Cicak adalah lambang dari untuk orang Batak. Alasan filosofisnya adalah karena cicak bisa kita temukan di manapun, di rumah yang besar atau kecil, di pedesaan maupun perkotaan pasti kita bisa menemukan cicak.

Artinya cicak dapat bertahan hidup dengan kondisi apapun, ini menggambarkan kemampuan cicak dalam beradaptasi di lingkungannya, dan diharapkan orang Batak juga bisa beradaptasi selayaknya cicak.

Kekayaan adat dan budaya yang ada di Indonesia memanglah sangat menarik untuk dibahas. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita masyarakat Indonesia.

Baca Juga : Bhinneka Tunggal Ika

Suku Batak juga menjadi salah satu suku yang cukup populer, baik karena keunikan adat dan budaya yang dimilikinya, hingga bidang pekerjaan seperti pengacara yang didominasi oleh orang Batak pun menjadi sorotan yang menarik untuk dibahas.

Itulah pembahasan mengenai suku Batak mulai dari sejarah hingga adat istiadat yang menjadi tatanan sosial masyarakat Batak. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel