Luar Angkasa panas atau dingin ya? Banyak yang bilang dingin, kalau benar di luar angkasa dingin, lalu kenapa di bumi sinar matahari terasa panas? Bagaimana penjelasannya? Sebagian besar dari kita pasti punya pertanyaan yang sama tentang hal ini.


Informasi dari berbagai sumber menyebutkan bahwa udara di luar angkasa dingin dan juga panas. Mungkin kamu bingung, tapi jika kita bicara mengenai udara dingin dan panas maka kita harus tahu juga bagaimana panas itu bisa berpindah.

Ada tiga proses perpindahan panas, yaitu:
  • Melalui konduksi 
  • Melalui konveksi 
  • Melalui radiasi
Perhatikan jika kita memanaskan ujung sendok dan menyentuh ujung yang satunya lagi, pasti terasa panas. Inilah yang disebut dengan perpindahan panas secara konduksi.

Ketika di siang hari yang panas kita berteduh di bawah atas seng, kita tetap akan merasakan udara panas walaupun sudah berteduh. Inilah yang disebut dengan perpindahan panas secara konveksi.

Sedangkan perpindahan panas secara radiasi tidak membutuhkan perantara atau media. Perpindahan panas secara radiasi bisa melalui ruang hampa, dan biasanya disertai cahaya. Inilah penjelasan sederhana bagaimana panas matahari bisa sampai ke bumi melalui ruang hampa melalui radiasi.

Lalu, Apakah Luar Angkasa Dingin?

Para astronot yang berada di luar angkasa pada misi penerbangan antariksa terpapar oleh panas matahari hingga suhu 150 derajat Celsius. Suhunya bahkan lebih panas dari air mendidih. 

Itu sebabnya para astronot memakai pakaian khusus agar tidak terpapar radiasi matahari secara langsung. Namun, ketika tidak sedang terkena radiasi matahari secara langsung, walaupun berlindung di balik sayap pesawat, suhu udara di luar angkasa langsung turun hingga minus 200 derajat celcius.

Panas merupakan energi yang muncul akibat gesekan dan gerakan molekul. Nah, di luar angkasa tidak terjadi gesekan antar molekul sehingga tidak ada energi yang terlepas. Jadi, panas yang diterima oleh para astronot akan dilepaskan begitu saja.

Lalu, kenapa panas bumi bisa disimpan hingga malam hari? Itu karena adanya atmosfer yang berfungsi menjaga dan menyimpan panas di permukaan bumi. Dengan begitu, mahluk hidup tetap merasakan hangat meski sedang tidak terkena sinar matahari. Sayangnya, lapisan atmosfer mengalami kerusakan karena adanya global warming. 

Demikianlah penjelasan untuk pertanyaan apakah di luar angkasa udaranya dingin. Semoga artikel ini bermanfaat.

Apa yang dimaksud dengan manajemen bencana? Pengertian Manajemen bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 adalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitas dan rekonstruksi bencana.


Pengertian Manajemen Bencana Menurut Para Ahli

1. University of Wisconsin

Pengertian manajemen bencana menurut University of Wisconsin adalah rangkaian aktivitas yang di desain untuk mengatur kondisi bencana serta keadaan darurat untuk menyiapkan kerangka untuk menolong orang yang renta bencana untuk hindari atau menangani efek bencana itu.

2. Kampus British Columbia

Pengertian manajemen bencana Kampus British Columbia adalah sistem pembentukan / penetapan tujuan dengan serta nilai dengan (common value) untuk mendorong pihak-pihak yg ikut serta (partisipan) untuk membuat gagasan serta hadapi baik bencana potensial ataupun aktual.

Tujuan Manajemen Bencana

Berikut ini adalah tujuan manajemen bencana:
  1. Menghindarkan serta meminimalisir jumlah korban manusia dan rusaknya harta benda serta lingkungan hidup
  2. Meminimalisir kesengsaraan serta kesusahan dalam kehidupan serta penghidupan korban
  3. Mengembalikan korban bencana dari daerah pengungsian ke daerah asal apabila sangat mungkin atau merelokasi ke daerah baru yang layak huni serta aman.
  4. Mengembalikanperanan sarana umum paling utama, seperti komunikasi/ transportasi, air minum, listrik, serta telepon, termasuk juga kembalikan kehidupan ekonomi serta sosial daerah yang terserang bencana.
  5. Mengurangirusaknya serta kerugian selanjutnya.
  6. Menempatkan beberapa basic yang dibutuhkan manfaat proses aktivitas rehabilitasi serta rekonstruksi dalam konteks pembangunan.
  7. Menghindari kerugian lebih besar pada individu, orang-orang serta Negara lewat aksi awal.
  8. Meminimalisir kerugian pada individu, orang-orang serta Negara berbentuk kerugian yang terkait dengan orang, fisik, ekonomi serta lingkungan bila bencana itu berlangsung, dan efisien bila bencana itu sudah berlangsung.
  9. Meminimalisir penderitaan yang dialami oleh individu serta orang-orang yang terserang bencana.
  10. Untuk melakukan perbaikan keadaan hingga indivudu serta orang-orang bisa menangani persoalan karena bencana.

Mekanisme Manajemen Bencana 

Manajemen bencana terbagi dalam 2 mekanisme yakni mekanisme internal atau informal serta mekanisme eksternal atau informal.

a. Mekanisme internal atau informal, yakni unsur-unsur orang-orang di lokasi bencana yang pada umumnya melakukan peranan pertama serta paling utama dalam manajemen bencana serta sering dimaksud mekanisme manajemen bencana alam, ini terbagi dalam keluarga, organisasi sosial informal (pengajian, service kematian, aktivitas kegotong royongan, arisan dsb) dan orang-orang lokal.

b. Mekanisme eksternal atau resmi, yakni organisasi yang berniat dibuat untuk maksud manajemen bencana, contoh organisasi manajemen bencana di Indonesia salah satunya seperti BAKORNAS PB, SATKORLAK PB serta SATLAK PB.

Siklus Manajemen Bencana

Siklus manajemen bencana terdiri jadi 3 bagian atau fase, 3 step atau fase manajemen bencana:

1. Step Pra Bencana

Pada fase pra bencana ini meliputi aktivitas, mitigasi, kesiapsagaan serta peringatan awal.
  • Mencegah (Prevention)
Usaha yang dikerjakan untuk menghindar terjadinya bencana bila mungkin saja dengan menghapus bahaya. Contoh aktivitas mencegah salah satunya melarang pembakaran rimba dalam perladangan, melarang penambangan batu di daerah curam, melarang buang sampah asal-asalan serta beda sebagainya.
  • Mitigasi Bencana (Mitigation)
Mitigasi yaitu rangkaian usaha yang dikerjakan untuk kurangi resiko bencana baik lewat pembangunan fisik, ataupun penyadaran serta penambahan kekuatan hadapi ancaman bencana. Aktivitas mitigasi inidapat dikerjakan lewat proses pengaturan ruang ; penyusunan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan ; serta penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, kursus baik dengan konvensional ataupun moderen.
  • Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiap siagaan yaitu rangkaian aktivitas yang dikerjakan untuk menghadapi bancana lewat pengorganisasian serta langkah yang pas manfaat serta berdaya manfaat.
  • Peringatan Awal (Early Warning)
Peringatan Awal yaitu rangkaian aktivitas pemberian peringatan sesegera mungkin saja pada orang-orang tentang peluang terjadinya bencana disuatu tempat oleh instansi yang berwenang atau usaha untuk memberi sinyal peringatan kalau bencana peluang juga akan selekasnya berlangsung.

Pemberian peringatan awal ini mesti mencapai orang-orang (accesible), selekasnya (immediate), tegas tidak membingungkan (coherent), berbentuk resmi (official).

2. Step Waktu Berlangsungnya Bencana

Dalam step ini meliputi tanggap darurat serta pertolongan darurat.
  • Tanggap Darurat (response)
Tanggap darurat yaitu rangkaian aktivitas yang dikerjakan dengan selekasnya ketika peristiwa bencana untuk mengatasi efek jelek yang diakibatkan. Ini mencakup aktivitas penyelamatan serta evakuasi korban, harta benda, pemenuhan keperluan basic, perlindungan, pengurusan pengungsian serta pemulihan fasilitas prasarana. Tersebut sebagian aktivitas yang dikerjakan pada step tanggap darurat, salah satunya yakni :
  1. Pengkajian yang pas pada lokasi, rusaknya serta sumberdaya
  2. Pemilihan status kondisi darurat bencana
  3. Penyelamatan serta evakuasi orang-orang terserang bencana
  4. Pemenuhan keperluan dasar
  5. Perlindungan pada grup rentan
  6. Pemulihan dengan selekasnya prasarana serta fasilitas vital
  • Pertolongan Darurat (relief)
Ini adalah usaha untuk memberi pertolongan terkait dengan pemenuhan keperluan basic berbentuk sandang, pangan, tempat tinggal sesaat, kesehatan, sanitasi dan air bersih.

3. Step Pasca  Bencana

Dalam bagian ini meliputi pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.
  • Pemulihan (Recovery)
Pemulihan yaitu rangkaian aktivitas untuk kembalikan keadaan orang-orang serta lingkungan hidup yang terserang bencana dengan menggunakan kembali kelembagaab, prasarana serta fasilitas dengan lakukan upata rehabilitasi.
  • Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi yaitu perbaikan serta pemulihan semuanya segi service umum atau orang-orang sampai tingkat yang ideal pada lokasi saat bencana dengan tujuan paling utama untuk normalisasi atau berjalannya dengan lumrah semuanya segi pemerintahan serta kehidupan orang-orang pada lokasi saat bencana.
  • Rekonstruksi (reconstruction)
Rekonstruksi yaitu perumusan kebijakan serta usaha dan beberapa langkah riil yang terencana dengan baik, berkelanjutan serta berkepanjangan untuk membuat kembali dengan permanen semuanya prasarana, fasilitas serta system kelembagaan baik tingkat pemerintahan ataupun orang-orang dengan tujuan paling utama tumbuh mengembangnya aktivitas perekonomian, sosial serta budaya, tegaknya hukum serta ketertiban serta bangkitnya peranan serta partisipasi orang-orang sipil dalam semua segi kehidupan bermasyarakat di lokasi saat bencana. Lingkup proses rekonstruksi terdiri atas program rekonstruksi fisik serta program rekonstruksi non fisik.

Sekian artikel mengenai “Pengertian Manajemen Bencana, Tujuan, Mekanisme serta Siklus Manajemen Bencana Komplit“, mudah-mudahan berguna.

Apa itu MLM. Pengertian MLM atau Multi Level Marketing adalah strategi pemasaran dimana tenaga penjual (sales) tidak hanya mendapatkan kompensasi atas penjualan yang mereka hasilkan, namun juga atas penjualan sales lain yang mereka rekrut.

Tenaga pemasar yang direkrut disebut juga dengan downline. Arti beda dari Usaha MLM yaitu pemasaran piramida, pemasaran jaringan, network marketing, multi generation marketing, serta uni level marketing.



MLM yaitu satu rancangan pemasaran lewat cara memberi peluang pada customer supaya ikut serta jadi penjual dan memperoleh profit pada garis kemitraannya. Member MLM disebut juga dengan distributor atau partner niaga. Partner niaga seterusnya turut mengajak orang yang lain untuk jadi anggota hingga jaringan pasar makin besar atau luas.

Kesuksesan partner niaga mengajak serta menaikkan anggota juga akan tingkatkan penghasilan perusahaan hingga memberi keuntungan. Berdasar pada hal itu, perusahaan memberi keuntungannya pada partner niaga berbentuk insentif atau bonus.

Pengertian MLM Menurut Para Ahli

1. Clothier (1994)

Menurut Clothier, Multi Level Marketing adalah suatu cara atau metode menjual barang secara langsung kepada pelanggan melalui jaringan yang dikembangkan oleh para distributor lepas yang memperkenalkan para distributor berikutnya pendapatan dihasilkan terdiri dari laba eceran dan laba grosir ditambah dengan pembayaran berdasarkan penjualan total kelompok yang dibentuk oleh sebuah distributor.

2. Muslich (2015)

Menurut Muslich, Multi Level Marketing adalah sebuah sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. Dengan kata lain, Multi Level Marketing adalah pemasaran berjenjang melalui jaringan distribusi yang dibangun dengan menjanjikan konsumen (pelanggan) sekaligus sebagai tenaga pemasaran.

3. Harefa (2000)

Menurut Harefa, Multi Level Marketing adalah menjual atau memasarkan langsung suatu produk baik berupa barang atau jasa konsumen, sehingga biaya distribusi dari barang yang dijual atau dipasarkan tersebut sangat minim bahkan sampai ke titik nol yang artinya bahwa dalam bisnis MLM ini tidak diperlukan biaya distribusi. MLM juga menghilangkan biaya promosi dari barang yang hendak dijual karena distribusi dan promosi ditangani langsung oleh distributor dengan sistem berjenjang.

4. Sabiq (2005)

Menurut Sabiq, MLM adalah suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingkat bawah), orang akan disebut Upline jika mempunyai Downline.

5. Royan (2002)

Menurut Royan, MLM atau Multi Level Marketing dikenal juga sebagai network marketing adalah salah satu metode pemasaran wirausaha dengan memanfaatkan sistem jaringan.

6. Yusuf

Menurut Yusuf dalam Rozi (2003), Network Marketing adalah sebuah jaringan kerja pemasaran yang didalamnya terdapatsejumlah orang yang melakukan proses pemasaran produk/jasa.

Cara Kerja MLM (Multi Level Marketing)

Menurut Sabiq (2005), langkah kerja usaha mlm yakni :

Pertama, pihak perusahaan berupaya menjaring customer untuk jadi anggota lewat cara mewajibkan calon customer beli paket product perusahaan dengan harga spesifik.

Dengan beli paket product perusahaan itu, pihak konsumen di beri satu formulir keanggotaan perusahaan. Sesudah jadi anggota, pekerjaan setelah itu mencari anggota baru lewat cara yang sama yakni beli product perusahaan serta isi formulir keanggotaan.

Beberapa anggota baru lalu mencari calon anggota baru sekali lagi lewat cara yang sama. Jika anggota dapat menjaring banyak anggota jadi ia juga akan memperoleh bonus dari perusahaan. Dengan terdapatnya beberapa anggota baru yang sekalian jadi customer setia product perusahaan, jadi anggota yang ada pada level pertama, ke-2 dan sebagainya juga akan senantiasa memperoleh bonus dengan estafet dari perusahaan, karna perusahaan MLM begitu diuntungkan dengan terdapatnya anggota baru itu.

Sedang, menurut Setiawan (2017), system atau langkah kerja Multi Level Marketing yakni :

Pertama, orang yang mau gabung dapat disponsori oleh seseorang distributor perusahaan MLM. Setelah itu, agar bisa didaftarkan jadi anggota atau distributor, tiap-tiap orang diharuskan membayarkan sejumlah uang yang telah ditetapkan besarnya.

Sesudah membayar uang pangkal barusan, anggota/ distributor juga akan menandatangani satu kontrak yang berbentuk mengikat distributor serta perusahaan. Beberapa distributor lalu jalankan aktivitas jual beberapa produk perusahaan pada customer dan meningkatkan jaringan penjualan menjadi lebih besar.

Beberapa Type Multi Level Marketing

Menurut Setiawan (2017), ada banyak type MLM, diantaranya yakni:

1. Binary Plan

System ini memprioritaskan pengembangan jaringan cuma dua kaki serta lebih memprioritaskan keseimbangan jaringan. Makin seimbang jaringan serta omset usaha perusahaan MLM ini makin besar bonus yang di terima. Perusahaan MLM dengan system ini relatif lebih cepat perubahannya. Beberapa partner semakin lebih cepat memperoleh bonus besar.

Supaya tampak makin gampang memperoleh uang, beberapa partner perusahaan juga akan mengaplikasikan ketentuan memperoleh uang jadi bonus dari perektrutan partner yang mereka ajak. System ini umumnya memberi bonus besar pada awal karier jadi iming-iming tapi sebenarnya yang diuntungkan yaitu partner yang join dimuka.

2. Sistem Matrix

System ini memakai rencana pengembangan jaringan cuma tiga frontline saja demikian halnya setelah itu. Type system ini keluar untuk mensiasati system binary yang dipandang money game.

3. System Break Away

System ini pengembangan networknya memprioritaskan kelebaran. Makin banyak frontline, makin besar juga bonus yang di terima. Walau demikian, kekurangannya yaitu seseorang agen mesti mengurusi semua sendiri. System ini sangat mungkin downline untuk lebih dari uplinenya. Bonus yang didapat mitranya umumnya kecil dimuka, tapi besar di posisi atas. Hal itu karna bonus anggota dimuka kariernya kecil, jadi umumnya perusahaan mlm ini memercayakan iming-iming bonus perekrutan.

Kelebihan dan Kelemahan MLM

Menurut Yusuf (2000), Kelebihan Multi Level Marketing adalah sebagai berikut
  1. MLM dapat menghadirkan pasif income yang sangat menguntungkan sebagai penambahan penghasilan tetap yang di terima secara rutin.
  2. MLM melatih tiap-tiap distributor untuk mengasah skill berkomunikasi dengan downlinenya hingga terjadi jiwa personal selling yang kuat.
  3. Memperluas relasi.
Menurut Yusuf (2000), Kekurangan Multi Level Marketing salah satunya yakni :
  1. Distributor MLM tidaklah entrepreneur (pengusaha), tapi cuma pengikut disuatu system hirarki yang rumit di mana mereka cuma mempunyai sedikit kendali. Jadi mereka dikendalikan oleh system yang berlaku, tidak dapat bebas.
  2. MLM beresiko negatif pada bidang riil. Bila manusia telah tergila-gila dengan MLM, jadi aktivitas bidang riil juga akan terganggu. Karna dalam MLM, uang berputar-putar cuma pada lingkungan perusahaan itu serta pastinya kurangi produktivitas orang-orang dalam bekerja (dalam arti sebenarnya).
  3. MLM buat orang yang lain tidak ingin berupaya memutar modal dalam aktivitas usaha bidang riil. Walau sebenarnya bidang riil perlu modal yang cukup besar.
  4. Uang nasabah yang berputar-putar pada usaha MLM tidak ditanggung keamanannya oleh pemerintah. Pada peluang terburuk (likuidasi), uang nasabah MLM tidak dapat dikembalikan dengan kata lain hangus.
Sekian artikel kajian mengenai Pengertian MLM, Langkah Kerja, Type, Kelebihan serta Kekurangan Multi Level Marketing (MLM). Mudah-mudahan berguna serta janganlah lupa ikuti tulisan kami selanjutnya.

Pengertian Amandemen

Apa yang dimaksud dengan amandemen? Pengertian Amandemen adalah suatu prosedur penyempurnaan, tanpa harus langsung mengubah UUD, serta berfungsi sebagai pelengkap dan rincian dari UUD asli. Menurut Hukum Tata Negara, amandemen merupakan salah satu hak legislatif untuk mengusulkan perubahan dalam suatu rancangan UU yang diajukan pemerintah.

Alasan Adanya Amandemen UUD 1945

  1. UUD 1945 disusun pada masa persiapan kemerdekaan Indonesia dalam situasi yang serba mendesak, maka ada beberapa pasal tidak lagi sesuai dengan situasi dan persoalan kenegaraan sekarang. 
  2. Adanya penafsiran para pemimpin terdahulu (Orba) terhadap beberapa pasal diarahkan untuk keuntungan diri sendiri.

Landasan Amandemen UUD 1945

  1. Pasal 1 Tap MPR No. XIII/MPR/1998 (tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakii Presiden)
    “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”.
  2.  Pasal 37 UUD 1945 tentang wewenang MPR untuk mengubah UUD 1945.
     Sidang Umum MPR tanggal 14-21 Oktober 1999.
  3.  Tap MPR No. IX/MPR/1999 tentang Penugasan BP MPR Rl untuk Melanjutkan Perubahan UUD Negara Rl Tahun 1945.

Tahap-Tahap Amandemen UUD 1945

UUD 1945 sebagai konstitusi negara Rl sampai saat ini telah mengalami empat kali (empat tahap) amandemen (perubahan) yang terjadi di era reformasi.

Keempat tahap amandemen tersebut, sebagai berikut:

Tahap I

  1. Tanggal penetapan 19 Oktober 1999
  2. Pasal-pasal yang mengalami perubahan dan penambahan, yaitu: pasal 5 (1) , pasal 7,  pasal 9, pasal 13(2), pasal 14, pasal 15, pasal 17(2) dan (3),  pasal 20, pasal 21
  3. Pasal-pasal yang diubah untuk mengurangi kekuasaan presiden. Pelaksanaan amandemen pertama terhadap UUD 1945 berdasarkan hasil rapat paripurna sidang umum MPR-RI ke-12 tanggal 10 Oktober 1999, yang kemudian disahkan pada tanggal 19 Oktober 1999 memiliki dasar sebagai berikut:
  • Dasar politis, mempelajari, menelaah, dan mempertimbangkan dengan seksama dan sungguh- sungguh hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi rakyat, bangsa dan negara.
  • Dasar yuridis, menggunakan kewenangan bedasarkan pasal 37 UUD 1945

Tahap II

  1. Tanggal penetapan 18 Agustus 20002)
  2. Pasal-pasal yang mengalami perubahan dan penambahan, yaitu :
  • pasal 18
  • pasal 18A
  • pasal 18C
  • pasal 19
  • pasal 20 (5)
  • pasal 20A
  • pasal 22A
  • pasal 22B
  • pasal 25E
  • pasal 26 (2) dan (3)
  • pasal 27 (3)
  • pasal 28A
  • Pasal 28B
  • pasal 28D
  • pasal 28C
  • pasal 28E
  • pasal 28F
  • pasal 28G
  • pasal 28H
  • pasal 28I
  • pasal 28J
  • pasal 30
  • pasal 36A
  • pasal 36B
  • pasal 39C
      3. Pasal-pasal yang di ubah dan ditambahkan mengatur tentang:
  • pemda
  • wilayah Negara
  • DPR
  • WNI/penduduk
  • HAM
  • Hankam
  • Lambang Negara
  • Lagu kebangsaan

Tahap III

  1. Tanggal penetapan 10 nopember 2001
  2. pasal pasal yang mengalami perubahan dan penambahan, yaitu :
  • pasal 1 (2) dan (3)
  • pasal 3 (1) (3) dan (4)
  • pasal 6 (1) dan (2)
  • pasal A (1) (2) (3) da (5)
  • pasal 7A
  • pasal 7B (1) s/d (7)
  • pasal 7C
  • pasal 8 (1) da (2)
  • pasal 11 (2) dan (3)
  • pasal 17 (4)
  • pasal 22C (1) s/d (4)
  • pasal 22D (1) s/d (4)
  • pasal 22E (1) s/d (5)
  • pasal 23 (1) s/d (3)
  • pasal 23A
  • pasal 23C
  • pasal 23E (1) s/d (3)
  • pasal 23F (1) dan (2)
  • pasal 23G (1) dan 2
  • pasal 24 (1) dan (2)
  • pasal 24A (1) s/d(5)
  • pasal 24B (1) s/d (4)
  • pasal 24C (1) s/d (6)
     3. Pasal-pasal yang diubah dan ditambahkan mengatur tentang:
  • Kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut UUD.
  • Negara Indonesia adlah Negara hokum
  • Wewenang MPR
  • Kepresidenan
  • Pembentukan mahkamah konstitusi
  • Pelaksanaan perjanjian internasional
  • DPR
  • Pemilu untuk memilih DPR,DPD, dan Presiden/wakil Presiden
  • APBN
  • BPK
  • Kekuasaan kehakiman

Tahap IV

  1. Tahap penetapan 10 Agustus 2002
  2. Pasal-pasal yang mengalami perubahan dan penambahan. Yaitu :
  •  Pasal 2 (1)
  •  Pasal 6A (4)
  •  Pasal 8 (3)
  •  Pasal 11 (1)
  •  Pasal 16
  •  Pasal 23B
  •  Pasal 23D
  •  Pasal 24 (3)
  •  Pasal 31 (1) s/d (4)
  •  Pasal 32 (1) dan (2)
  •  Pasal 33 (4) dan (5)
  •  Pasal 34 ( 1) s/d (4)
  •  Pasal 37 (1) s/d (5)
  •  Aturan peralihan pasal I,II,dan III
  •  Aturan penambahan pasal I dan II
      3. Pasal-pasal yang diubah dan ditambahkan mengatur tentang:
  •  MPR
  •  Pemilihan Presdien dan Wakil Presiden
  •  Mekanisme pemilihan jika Presiden dan Wakil Presiden berhalangan tetap
  •  Persetujuan pembuatan perjanjian internasional
  •  Penghapusan DPA
  •  Penetapan mata uang dan pembentukan bank sentral
  •  Badan-badan yang memegang kekuasaan kehakiman
  •  Hak dan kewajiban warga Negara dalam hal pendidikan dan kebudayaan
  •  Perekonomian nasional dan kesejahteraan social.
  •  Mekanisme perubahan UUd 1945
  •  Aturan peralihan (pasal III ) tentang pembentukan Mahkamah Konstitusi
  •  Aturan tambahan (pasal I) tentang tugas MPR untuk meninjau status hokum Ketetapan MPRS dan MPR untuk diambil putusan pada siding MPR tahun 2003
  •  Aturan tambahan (pasal II ) tentang isi UUd 1945 yang terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal
Beberapa hal pokok yang menjadi isi konstitusi Negara RI berdasarkan UUD 1945 yang telah diamandemen sebagai berikut:
  1.  Negara Indonesia adlah Negara kesatuan yag bentuk pemerintahannya reublik (pasal 1 ayat 1)
  2.  Kedaulatan ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar ( pasal 1 ayat 2)
  3.  Negara Indonesia menganut pembagian kekuasaan dengan adanya tiga lembaga Negara, yaitu lembaga legislative, eksekutif, dan yudikatif ( pasal 2,4,19, dan 22 C)
  4.  Lembaga legislative terdiri atas Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) (pasal 2, 9, 22 C)
  5.  Lembaga eksekutif adalah Presiden dan Wakil Presiden
  6.  Lembaga Yudikatif terdiri atas Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi (pasal 24)
  7.  Indonesia memakai system peerintahan yang presidensial dengan presiden sebagai keapala Negara dan kepala pemerintahan (pasal 4)
  8.  Presiden Republik Indonesia dipilih langsung oleh rakyat untuk masa jabatan lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali sekali (pasal 6A ayat 1 pasal 7)
  9.  Parlemen terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui pemilu, sedang anggota DPD dipilih dari masing –masing propinsi melalui pemilu (pasal 19 dan pasal 22C)
  10.   Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berwenang mengubah dan menetapkan undang-undang dasa, melantik presiden dan wakil, serta memberhentikan, presiden dan wakil presiden dalm masa jabatannya ( pasal 2 Ayat 1, 2 , dan 3)
  11.  Mahkamah agung dan badan-badan peradilan dibawahnya menjalankan fungsi peradilan (pasal 24 ayat 2).
  12.   Mahkamah konsitusi bertugas menguji undang-undnag terhadap UUD (yudical review), memutuskan sengketa kewenangan antar lembaga Negara, memutus pembubaran partai politik dan memutus snegketa hasil pemilu, ( pasal 24C ayat 1)
  13.  Selain lembaga-lembaga diatas, terdapat Dewan Pertimbangan, Badan Pemeriksa Keuangan, Tentara Nasional Indonesia, Dan Kepolisian Republik Indonesia, Pemerintah Daerah sebagai lembaga otonom yang menyelenggarakan kekuasaan pemerintah di daerah.
Di atas tadi adalah penjelasan mengenai Pengertian Amandemen, Alasan, Landasan dan Tahap-tahap Amandemen UUD 1945. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa dijadikan referensi untuk mengerjakan tugas.

Anda mungkin tak jarang menemukan bahwa banyak teman-teman anda yang pintar (paling tidak secara akademis), yang jaman SMA dulu kayak nggak pernah ngaji, jaman kuliah juga gak gabung liqo’ atau forum kajian mendadak sekarang kenceng banget ngomong agama atau bela “ulama” anu dan itu. Bahkan ada yang ekstrem sampai menghujat ulama beda haluan; yakni ulama-ulama yang sejak kita masih ingusan udah mendakwahkan hikmah ilmu. 

Anda mungkin makin heran. Ada di antara mereka yang cerdas itu punya profesi mentereng: dokter, teknokrat, penulis, filmmaker, dll. Intinya mereka itu bukannya orang-orang yang bodoh dan miskin. Bukan orang-orang kepepet yang bisa ditipu jadi “pengantin” dengan imbalan 72 bidadari. Bahkan mereka juga mengutuk adanya aksi teroris bodoh macam itu. Tapi kok…ideologinya sehaluan?

Kok bisa ya?

Ilustrasi: Teroris beraksi

LANDASAN BERPIKIR

Sebelum jauh membahas itu saya perlu mengingatkan untuk membedakan istilah RADIKAL dengan EKSTREM. Radikal dalam bahasan politik pada dasarnya adalah upaya melakukan perubahan struktur masyarakat politik secara revolusioner dan fundamental. Gampangannya upaya ganti bentuk negara. Sedangkan EKSTREM adalah kondisi yang dianggap berlebihan dalam mencapai tujuan. 

RADIKAL adalah istilah yang saya gunakan untuk menyebut sekelompok orang yang punya cita-cita mengganti dasar negara. Jadi gak usah berbelit-belit nanya saya lagi ya apa itu radikalisme.
Apa kesamaan penganut radikalisme dengan ekstremis?

Sama-sama totalitarian, sama-sama ingin berkuasa secara revolusioner. Dalam beberapa derajat, tafsir keagamaannya cenderung tidak progresif. Kaum ekstrem lebih parah lagi karena mereka literer.
Apa perbedaannya?

Kaum radikal ada yang menempuh jalur konstitusional, pakai jalur hukum. Sedangkan ekstrem melalui kudeta.

Ingat saya cuma membahas radikalisme versi Islam. Radikalisme yang lain misalnya komunisme bukan cakupan bahasan ini.

=========
Tentu kita tak bisa menghakimi proses belajar agama setiap orang. Ada yang belajar secara sistematis melalui ustadz yang sudah bereputasi. Ada yang belajar dari buku dan menarik kesimpulan sendiri. Sekarang ini bisa juga orang belajar agama via internet. 

Menurut saya, belajar apapun yang penting adalah “caranya” alias metodologinya. Metodologi ini bisa dikenali jejaknya kalo seseorang pernah ngaji yang bener. Yang bener yang gimana? Ya yang pake metodologi. Karena ayat-ayat Al Quran itu gak bisa seenaknya dicomot tanpa tahu latar belakang turunnya (Azbabun Nuzul), hukum-hukum agama yang terkandung dalam hadits juga gak bisa mentah diterapkan tanpa tahu ada latar kondisi primer sebagai alasan hukum berlaku (‘illat).

Ilmu agama itu kompleks. Makanya butuh waktu bertahun-tahun, mempelajari bahasa asal agama, membandingkan banyak referensi untuk bisa bijak menyampaikan ilmu pada umat. Saya yakin bahwa semakin mumpuni seorang ulama, ilmunya makin dalam, makin low profile alias tawadhu’.
Bahkan dalam nahi munkar pun, ulama yang tawadhu’ ngerti mana yang prioritas (Yusuf Qardhawi merumuskan hal ini dalam Fiqh Prioritas). Ngerti mana mashlahat dan mudharatnya jika suatu gerakan melawan kemunkaran dilakukan tidak dengan jalan yang baik.

Soal yang jadi “sholeh dadakan” ini saya punya beberapa dugaan (terlalu berat lah kalo dibilang teori hahaha).

Ada 3 hal yang bisa menjelaskan kenapa orang pintar bisa jadi radikal:
1. Perasaan bersalah (dalam berbagai varian dan level)
2. Sindrom inferioritas dan insecure (secara kolektif)
3. Ideologi totalitarian

1. PERASAAN “BERSALAH” 

Bisa jadi masa muda yang dihabiskan tanpa peduli apapun soal agama, berusaha ditebus dengan beragama sekenceng-kencengnya saat dewasa. Ia terlalu sibuk dengan ilmu-ilmu duniawi dan lupa belajar ilmu akhirat. Begitu dewasa dan kaya, ada yang terasa kosong dalam batin. Merasa menjadi bagian dari masyarakat yang sama agamanya, ia merasa ada tanggungjawab moral untuk membela agama yang selama ini ia cuekin. 

Anehnya, ilmu-ilmu positif yang mereka pelajari hanyalah jadi alat kerja semata.  Sikap kritisisme dan skeptis yang merupakan basis dari ilmu positif (science) tidak mereka pakai untuk membedah keyakinan. Merea menganggap akhirat ebih tinggi dan tak tergugat. Tak heran mereka yang kritis dalam ilmu positif jadi taqlid kalo urusannya surga dan neraka. Mereka, kalau ikut kajian pun yang cuma searah tanpa proses dialektis.

Gejala perasaan bersalah secara relijius juga bisa ditemukan pada orang yang hidupnya penuh maksiat dan hedonist. Mereka ketika tobat bisa menjadi sangat sholeh bahkan pada level ekstrim. Mungkin ia kuatir dosa masa lalunya tak tertebus. Yang macam ini, suka banget nyebar motivasi-motivasi keagamaan di kanal-kanal media sosial mereka.

2. INFERIORITY & FEELING INSECURE


Kejayaan Islam mulai pudar sejak runtuhnya kesultanan Ottoman Turki. Turki modern di bawah Mustafa Kemal Attaturk mencoba meniru-niru Eropa. Umat Islam yang masih ingat kejayaan lama hatinya hancur melihat ini. Kekalahan dan kebangkrutan politis terjadi di mana-mana. Dunia Islam terjebak dalam kebodohan dan kemiskinan sementara Revolusi Industri Eropa telah membawa tatanan dunia baru. 

Kekuatan dunia tidak lagi sama kayak abad pertengahan. Era perang salib bergeser ke era perang ideologi-politik antara kapitalisme VS komunisme. Dalam kondisi ini status banyak negara muslim hanyalah menjadi negara jajahan. Lalu komunis runtuh, orang-orang Islam coba nyari panggung kejayaan lagi. Setidaknya ide-ide khilafah dan variannya kembali didengungkan.  

Setelah era reformasi, parta-partai berazas Islam kembali muncul. Ormas-ormas berhaluan ekstrim juga makin memiliki posisi penting dalam membangun opini publik. Setidaknya itu terbaca ketika terjadi fenomena demo “7 juta umat”. Demo yang didukung secara luas itu meski memuat suara banyak faksi (yang tak selalu ekstrim) paling tidak juga digawangi oleh FPI, salah satu ormas berhaluan keras.

Ada keinginan kolektif untuk menjayakan kembali agama. Mereka tak rela martabatnya direndahkan atau dipinggirkan. Mereka yang ekstrem ini jelas tidak seperti NU dan Muhammadiyyah dalam menyatakan sikap publik. Sementara NU dan Muhammadiyyah masih memilih bentuk NKRI, ormas-ormas ekstrim lantang meneriakkan khilafah sebagai solusi.

Saya melihat ini hanyalah cerminan dari perasaan inferior, merasa terzhalimi dan merasa tak diberi ruang. Makanya nggak tanggung-tanggung, mereka menuntut lebih radikal…ganti aja bentuk negaranya. Yang macam ini mudah sekali merasa jadi korban ketakadilan pemerintah. Merasa salah satu cara mengembalikan kehormatan (izzah) ya dengan cara radikal.

Pendukung paham ini menurut amatan saya bukan bodoh. Tak semuanya miskin literasi. Beberapa bisa mempertahankan argumen dengan baik, sementara yang lainnya sangat buruk dalam sistematika diskusi serta sering denial.

Orang-orang yang insecure ini merasa punya nilai ketika mereka menyuarakannya dalam koridor radikal. Mirip kebanggaan pada klub sepakbola. Keyakinan yang ia imani harus jaya. Masalahnya mereka hidup di alam plural yang sudah sunatullah. Mereka harus berbagi ruang dengan saudara beda agama dan ideologi.

3. IDEOLOGI TOTALITARIAN


Ini adalah soal preferensi ideologis. Totalitarian meyakini bahwa semua aspek hidup sedetail-detailnya harus diurusi negara. Mereka menganggap bahwa manusia tak cukup dewasa untuk memilih cara hidup mereka sendiri. Mereka harus diatur dan dikuasai oleh “orang-orang yang kompatibel atau terpilih”. Kalau dalam politik, totalitarianisme menjelma menjadi fasisme. Sedangkan dalam psikologi beragama, orang totalitarian beranggapan bahwa hukum agama harus ditegakkan dalam level bermasyarakat dan bernegara. 

Orang totalitarian nggak identik dengan bodoh. Dokter, seniman, guru, dosen, teknokrat, ilmuwan dll. Bisa saja menganut ideologi macam ini. Saya ngomongin soal Islam. Rembesan totalitarian ini bisa tercermin dalam interpretasi keagamaan mereka. Merekalah yang pro hukum syariat disahkan dalam bentuk undang-undang umum, memilih bentuk negara agama dll. Tapi janganlah “gebyah uyah”, mereka pun bukan berarti pro terhadap kekerasan. 

Cuma saja saya amati (saya bisa aja salah by the way…) beberapa (ingat nih…BEBERAPA TIDAK SEMUA) dari mereka ini enggan mengakui bahwa kelompok yang mereka taruh simpati telah melakukan kekerasan. Kasus bom Kampung Melayu kemarin aja banyak yang denial. Jadi ya tak heran kenapa banyak yang dukung ormas bermasalah macam FPI dan imamnya. Organisasi dan imamnya adalah simbol “izzah” mereka hehehe Sang imam didera kasus ya mereka gak bakal percaya. Beda halnya kalo dari kubu oposannya. Hoax soal presiden itu PKI juga mereka sebar tanpa perlu tabayyun.

Menurut saya, kecenderungan totalitarian ini bisa jadi merupakan watak psikologis seseorang. Anda nggak bisa ubah itu dengan mudah. Ada orang-orang bertipe ideologis demokrat atau liberal. Ia menganggap bahwa manusia harus diberikan kebebasan menentukan dirinya. Tentu saja sesuai koridor. Sedang yang totalitarian menganggap manusia itu perlu diawasi dan dikontrol penuh bahkan hingga ke aspek pribadi.

Berilah orang totalitarian agama, maka ia akan membawa pemahaman agamanya hingga ke level bagaimana masyarakat kudu diurus hehehe

BAGAIMANA LAYAKNYA SIKAP KITA 


Saya tidak menolak sepenuhnya bahwa urusan agama masuk dalam regulasi birokrasi. Masalahnya urusan yang mana? Islam itu luas wilayah yurisprudensinya. Antara lain ada jinayah dan siyasah. Masing-masing masih terbagi lagi dalam subkategori. Jinayah adalah mengatur soal pidana, mencakup hudud, qishas dan ta’zir. Siyasah mengatur soal perdata seperti imamah (kepemimpinan) dan imarah (pemerintahan). Nanti masih ada lagi urusan yang dimensinya sosial seperti hukum muamalah, munakahat, faraidh dll. Tanya Pak ustadz aja ya haha saya gak pakar soal gini.

Islam lahir dengan seperangkat hukum karena memang berasal dari kondisi tak bernegara/stateless. Arab masa nabi itu isinya suku-suku/tribal. Bedakan dengan umatnya Yesus dan Buddha yang punya negara yang jelas. Jadi untuk saat ini, saya rasa bentuk NKRI sudah akomodatif terhadap aspirasi Islam. NKRI adalah final. Ngapain repot-repot start dari nol yang pastinya akan makan korban tak sedikit?

Silakan aja punya psikis totalitarian selama nggak diumbar jadi bensin perpecahan. Kita tak bisa mengontrol pikiran, hanya bisa membatasi perilaku. Dan bagi yang masih meragukan bom kemarin adalah kezhaliman yang nyata untuk manusia, bahkan merusak citra Islam sendiri…di mana cerminan Islam rahmatan lil alamin anda? Cuma jargon politik kepentingan?

Ideologi harus dihadapi dengan ideologi. Tapi monster sakit jiwa perlu dihadapi dengan senjata negara. Sekarang prioritasnya apakah membela masyarakat yang jadi korban atau monster teroris pembela ideologi anda?
==============
"Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi."
(Quran Surah Al Muthaffifin Ayat 1-3)
Copied from Facebook

Artikel lainnya

[randompost][fbig2 animated]
Diberdayakan oleh Blogger.